Gadis Kuno

Pagi hari yang cerah mengawali langkah seorang gadis remaja yang sederhana, ia tinggal bersama seorang kakek yang bernama Rahman dan istrinya yang bernama Minah di rumah yang kecil namun hangat, dan tentram. Nama seorang gadis itu adalah Rahmawati V, sampai sekarang ia tak tahu apa itu arti nama “ V “ pada namanya itu, kata neneknya nama “ V “
itu nama dari nama keluarganya. Ia biasanya dijuluki si Gadis kuno oleh teman – temannya.

* Berawal dari sebuh cerita …
Sutatu hari si gadis tersebut pergi ke sekolah, sesampainya di sekolah si gadis yang sebenarnya bernama Wati tersebut seperti biasa memasuki sekolah dengan tenang..
namun teman – temannya selalu saja menghinanya dengan sebutan “ Gadis Kuno”
Septi : “ Hey gadis kuno mengapa kau datang kemari, membuat keruh suasana saja “ *teman – teman Septi ikut tertawa licik.
Wati : “ Biar saja aku gadis kuno tetapi masih bisa menjaga kekayaan budaya negerinya, nggak seperti kalian semua, yang nggak pernah mengakui budaya tanah kelahirannya sendiri!! “ *kata Wati dengan suara lantang
Septi : “ Kalau kuno ya kuno, gak usah ngelak deh!”
Wati pun berjalan tanpa menghiraukan sedikitpun.
Mengapa Wati disebut “ Gadis Kuno “ ? Iya, karena Wati senantiasa selalu menjaga budayanya negerinya, bagaimana tidak Wati selalu tidak mengikuti perkembangan zaman karena katanya terlalu banyak budaya asing yang tak layak bagi bangasa ini. Namun para temannya berpendapat berbeda dengan Wati, mereka beranggapan bahwa Wati terlalu kuno, tidak mengikuti zaman, tidak mengikuti tren – tren masa kini, tidak update, dan apa sajalah itu. Namun tanggapan dari teman – temannya tidak pernah Wati hiraukan sedikit pun, ia tetap berambisi bahwa budayanya adalah budaya yang unik, juga tak kalah kerennya dengan budaya – budaya luar, ia berjanji akan menjaga budaya tersebut, mengembangkannya, serta meneruskannya kepada penerus – penerus bangsa.

Setiap hari ia selalu berlatih menari tradisional, menembang, sedikit demi sedikit mempelajari juga alat musik tradisional tanpa rasa letih sedikitpun, ia berjuang benar – benar berjuang. Ia belajar semua itu melalui tetangganya yang ternyata begitu pintar dalam hal tersebut, maklum saja Wati orang yang kurang mampu, bagaimana bisa untuk les ke sanggar – sanggar yang biayayanya beratus – ratus ribu. Disamping ia selalu menjaga budayanya ia juga pintar dalam pendidikan di sekolahnya, setiap lomba selalu ia juarai, dari lomba akademik hingga lomba – lomba seni, serta lomba debat tentang hal yang berkaitan dengan bangsa Indonesia, ia tak pernah sombong sedikitpun, bahkan sama sekali tidak sombong.

Suatu hari Wati dipilih oleh gurunya bersama salah satu temannya yang baik terhadapnya yaitu Sita untuk mewakili sekolahnya di festival budaya taun ini, festival kali ini berlangsung sangat berbeda, dan unik dibandingkan festival – festival budaya pada tahun – tahun lainnya.

Di festival budaya…
Sita : “ di tempat ini sangat ramai ya Wat, mereka berbondong – bondong untuk melihat festival ini lebih dekat”
Wati : “ iya ta, mereka sangat berpartisipasi untuk menyaksikan festival budaya ini “
Wati, dan Sita pun menjadi diam, saking terpukaunya mereka melihat festival – festival unik diantaranya adalah : ditampilkannya budaya – budaya tiap daerah, tarian, makanan, alat musik, serta
Sita sibuk memotret semua yang ditampilkan, sedangkan Wati sibuk mencatat informasi yang barusan saja ia ketahuinya karena untuk hal laporan sekolah. Mereka tidak kelihatan lelah, karena sangat menarik katanya. Setelah berjalan – jalan Wati, dan Sita pun istirahat sejenak di tempat duduk yang ada di pinggir acara, disana mereka menemukan seorang anak bule yang sudah sangat mahir berbahasa Indonesia, mereka pun mecoba untuk berkenalan, dan akhirnya mulai berbincang – bincang.
Wati, Sita : “ Hai, namamu sapa? Kelihtannya kamu sangat tertarik pada festival ini”
Seorang anak bule : “ halo perkenalkan namaku Niken. Tentang mengapa aku sangat tertarik pada festival ini mungkin sudah tidak perlu dipertanyakan lagi “
Wati : “ oh salam kenal Niken, namaku Wati, sedangkan temanku ini namanya Sita, memang kenapa sudah tidak harus dipertanyakan lagi?”
Niken : “ tentu saja karena festival ini mengangkat seluruh budaya Indonesia, budaya yang sangat menarik, unik, setiap daerah pasti memiliki ciri khas pada budaya – budayanya, mulai dari makanan, kesenian, lagu daerah, bahkan baju adat mereka pun juga memiliki ciri khas masing – masing” *begitu pungkasnya.
Sita : “ Orang bule saja bangga terhadap budaya negeri kita,mengapa Septi, dan kawan – kawannya masih menganggap remeh serta acuh tak acuh” * kata Sita kepada Wati dengan nada sedikit berbisik.
Wati : “ Sudahlah ta, nantikan dia tau sendiri begitu menyesalnya tidak menghargai budaya – budaya di tanah kelahirannya ini” *jawab ita dengan suara yang sangat pelan.
Wati : “ oh iya ken, mengapa kamu bisa berbahasa Indonesia dengan sangat fasih, dan benar? Orang Indonesia saja masih menggunakan bahasa Indonesia yang mencla – mencle tidak pada tempatnya”
Niken : “ haha kamu bisa saja, aku tinggal di Indonesia sejak kecil, walaupun aku lahir di Belanda. Ayahku berasal dari sana, sedangkan
mamaku orang asli sini. Tetapi, aku lebih mirip seperti ayahku juga bule itu”
Sita, Wati : “ Hihihihi”
Sita : “ oh iya apa kamu juga suka pada budayamu di Belanda? Atau kamu ebih suka budaya di Indonesia? “
Niken : “ aku suka keduanya, karena keduanya memiliki keunikan masing – masing, tapi sejujurnya aku lebih tertarik pada budaya di Indonesia, karena banyaknya budayanya….”
Sita : “ oh begitu ya ken, heehe kami jadi senang mendengar itu”
Wati : “ bukannya negara Belanda dahulu yang menjajah negara Indonesia ya ken? “
Niken : “ iya benar wat, tetapi pada saat ini bangsa Belanda sangat menyesal atas perlakuannya tersebut, buktinya di negaraku aku pernah melihat seorang penyanyi menyanyikan lagu dari negara Indonesia, kalau tidak salah lagu Nina Bobo? Tau kan wat, ta, itu lagu anak – anak yang sering sekali kita nyanyikan?’
Wati :” iya Niken aku sangat ingat sekali tentang lagu itu, wah ternyata lagu Indonesia telah sampai ke Belanda, hehe”
Sita : “ iya aku jugaa ingatt” *Sita ikut – ikutan”
Niken : “ haha Sita ikut – ikutan mulu?’
Sita : “ nah habis mau gimana lagi memang kan aku juga tau lagu itu” *jawabnya dengan nada sedikit kesal, dan wajah nimbrung”
Hahahahahaha… Niken, dan Wati tertawa terbahak – bahak, Sita pun juga ikut – ikut tertawa akhirnya.
Wati : “ oh iya Niken ini sudah sore, aku, dan Sita pulang dahulu, terima kasih atas informasinya ya, kamu sangat baik kepada kami, kapan – kapan kita bertemu lagi yaa…”
Niken : “ okeh samasama… Aku juga terima kasih kembali karena kalian juga mau menemaniku, pastinya dong aku akan ingin lagi bertemu dengan kalian, hati – hati ya, aku juga ingin pulang, dadahhhh….”
Wati, Sita : “ iya dadahhh”

Sesampainya di rumah Wati bercerita pada nenek, dan kakeknya tentang festival tadi, nenek kakek Wati pun merasa senang, dan gembira mendengarnya. Oh iya Wati ada hal yang harus nenek, dan kakek beritau kepada kamu, apa itu nek? Tetapi kamu jangan kaget, nenek dan kakek memang merasa sedih, tapi nenek dan kakek juga merasa senang, kamu siap kan nak? Iya tentu saja nek, kek. Sebenarnya kami ini bukan nenek dan kakek kandungmu wat, kakek dan nenek ini mengadopsimu dari panti asuhan karena kami merasa kesepian setelah anak kami telah meninggal *dengan nada lirih ingin menagis. Haa? Apa benar nek, kek?aku tidak percaya sangat – sangat tidak percaya. Tapi ini memang benar wat. Kalau memang benar dimana orang tuaku selama ini nek, kek? Dimana mereka? Mengapa mereka tidak merawatku? Mengapa jadi nenek dan kakek? Ini memang aneh, benar – benar aneh * dengan menangis tersedu – sedu. Jangan kau begitu Wati, tadi orang tua kandungmu datang kesini, dan menjelaskan apa yang terjadi, ternyata mereka bukan sengaja untuk meninggalkanmu, ternyata dulu itu kamu hilang, ibumu sampai frustasi memikirkanmu yang tak kunjung ditemukan, sampai akhirnya mereka menemukanmu pada hari ini di festival yang kamu kunjungi tadi, mereka yakin bahwa kamu anaknya yang telah hilang karena kalung yang kamu pakai wat, iya kalung yang bertuliskan huruf “ V” itu, ternyata anak mereka yang hilang memakai kalung itu, kalung yang persis sekali dengan kalung ibumu. Kamu ingat tidak bahwa kami nenek kakekmu tidak mengerti apa itu huruf “ V” di kalungmu, kaupun juga wati, aku juga yakin nama aslimu juga bukan Wati, karena itu adalah nama kami yang kubuat untukmu. Besok kau pasti tau siapa nama aslimu nak. Lantas mereka tau darimana bahwa aku tinggal disini bersama kakek, dan nenek? Mereka mencari informasi di panti asuhan terdekat pada saat kamu hilang, ternyata mereka akhirnya mendapatkan informasi bahwa dahulu ada anak yang diadopsi oleh seorang kakek, dan nenek yang mempunyai kalung berliontin huruf “ V” melingkar di lehernya, dan akhirnya pihak panti asuhan memeberikan alamat rumah kami kepada ayah serta ibu kandungmu Wati. Tapi haruskah aku meninggalkan kakek dan nenek begitu cepat, padahal dulu kakek dan nenek yang merawat, mendidik serta membimbingku dari kecil hingga aku tumbuh menjadi seperti ini?. Tetapi apa kamu tidak ingin bertemu dengan ayah dan ibu kandungmu yang sudah lama menantikan kamu? Toh nanti juga kamu bisa mengunjungi nenek dan kakek setiap waktu kapanpun engkau mau, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu. Iya nek kek aku memang ingin bertemu, ingin sekali, setiap hari aku melihat teman – temenku berangkat sekolah selalu pamit kepada ayah ibunya, sedangkan aku, aku hanya bisa pamit kepada nenek, dan kakek, tapi tak rela bila harus meninggalkanmu kek, nek, kakek dan nenek sudah ku anggap seperti orang tua kandungku sendiri. Memang benar aku bisa kapan saja kesini tanpa kakek, dan nenek larang, tapi rasanya begitu tak enak. Sudahlah kau tidur saja ya, mungkin kamu terlalu lelah, besok ayah ibumu akan ke sini lagi untuk menjemputmu. Tapi??. Sudahlah tak usah ada kata tapi segeralah tidur wat. Iya nek, kek baiklah.

Ke esokkan harinya….
Wati telah bangun pagi untuk sholat shubuh, membersihkan rumah, membantu nenek memasak, Wati memang anak yang sangat rajin. Pukul tujuh ternyata ayah, dan ibu kandung Wati telah sampai ke rumah nenek, dan kakeknya, mereka pun berbincang – bincang.
Pak Tito : “ jadi bagaimana pak Rahman, apakah Wati mau tinggal dengan saya?
Kakek : “ nanti saja bapak tanya kepada anaknya. Sebentar saya panggilkan Wati”
Watiii… Sini nak ada ayah, dan ibumu ingin berbicara. Wati pun berjalan menuju ke ruang tamu yang sederhana milik kakek neneknya, lalu Wati duduk dengan sopan.
Nenek : “ nak ini dia orang tua kandungmu, ini pak Tito ayahmu, dan ini bu Vita ibumu”
Wati : “ *ersenyum ramah kepada orantuanya”
Bu Vita : “ jadi ini kau nak, kau sudah tumbuh besar, ini ibumu nak, ini ibu yang bertaun – taun mencari kehadiranmu, sini nak mari ibu peluk untuk melepas segala kerinduan ibu.
Wati menganngguk, dan segera ke ibu kandungnya yang sudah lama tidak bertemu dengannya, lalu Wati memeluk ibunya, dengan tangisan yang begitu bahagia, lalu ia bergantian memeluk ayahnya, melepas kerinduan ya amat dalam, suasana rumah sederhana itu pun menjadi sangat haruu …
Kakek : “ Wati apakah kamu bersedia untuk tinggal bersama orang tua kandungmu?”
Wati : “ Wati sudah memikirkannya kek, Wati bersedia, tetapi Wati ingin mendapatkan jawaban pada ayah, dan ibu apakah boleh Wati berkunjung ke rumah nenek, dan kakek setiap waktu?”
Pak Tito, Bu Vita : “ tentu saja tentu saja bolehhh”
Wati : “ terimakasih ibu, ayah telah mengijinkanku. Terima kasih juga kek, nek telah merawatku, dan mempertemukanku dengan orangtua kandungku”.
Mereka semua pun tersenyum, serta menangis haru.
Pak Tito : “ oh iya nak sebenarnya namamu itu bukan Rahmawati ataupun Wati, nama aslimu adalah yang melingkar di lehermu, iya “ V “, Valvera Francisca Arindai, huruf awalmu sama dengan ibumu, ibumu Vita, sedangkan kau Valvera, sekarang kau sudah mengerti kan arti huruf “ V “ yang dari dulu menjadi misteri. * semua pun ikut tertawa.

Hari demi hari dijalani Wati alias Valvera denga bersemangat, setiap hari iya juga tak lupa mengunjungi kakek dan neneknya. Sekarang ia telah bisa membuktikan bahwa budaya Indonesia sangatlah indah, ayah ibunya selalu mendukung hal positif yang disegani anaknya, yaitu lebih mencintai budaya negerinya, negri dimana ia dilahirkan. Orang tua Valvera pun membolehkan Valvera untuk les di sanggar menari. Sungguh kehidupannya sekarang sudahlah terpenuhi *batin Valvera.

Oh iya bagaimana Septi, dan kawan – kawannya? Haha ternyata mereka sudah sadar, mereka pun menyadari bahwa banyak budaya Indonesia yang telah diakui oleh dunia, dan yang terpenting ia tidak lagi mengejekku “ GADIS KUNO” hahaha sekarang aku bukanlah gadis kuno, tapi gadis yang modern pada budayanya.

Share