Imunisasi Difteri di SMP Negeri 1 Sedati

oleh Bpk. Suryono

Hari Kamis, 26 Juli merupakan hari yang paling mengerikan bagi si Ekky kelas 3.5. Hari itu merupakan momok yang menakutkan. Bayangan jarum runcing yang akan menancap lengannya. Mungkin semalam sudah gelisah tidurnya. Ketegangan yang luar biasa membuat lengan si Ekky semakin keras sehingga semakin sulit ujung jarum menembus dagingnya. Untung pak Rangga yang berbadan kekar itu berhasil merayu dan mengempit badan si Ekky . “Aduh sakiiiiiiit!” teriak si Ekky. Aula menjadi riuh gelak tertawa teman-temannya. Waktu itu si Ekky belum disuntik, baru diolesi kapas beralkohol. Pak Rangga mengempitnya semakin rapat dan akhirnya berhasillah jarum mendarat di pangkal lengannya.

imunisasi difteri smp negeri 1 sedati

Pagi itu siswa-siswi sedati ada yang berdebar-debar dan ada yang biasa-biasa saja. Salah satu siswa berkata,” Gak papa, jangan takut, suntik itu seperti digigit semut.” Beberapa temannya meringis ketakutan membayangkan tusukan jarum. Bagi siswa yang tidak takut jarum, injeksi bukan suatu yang heboh. Malah tampak ceria menyambut runcingnya sang jarum.

Difteri merupakan penyakit infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan. Penyakit ini membentuk lapisan tebal berwarna abu-abu pada tenggorokan, yang dapat membuat anak sulit makan dan bernapas. Bila infeksi dibiarkan dan tidak diobati, racun yang dihasilkan oleh bakteri bisa menyebabkan kerusakan saraf, ginjal, dan jantung.

Dengan mendapatkan imunisasi ulang difteri, antibodi anak meningkat, risiko terkena penyakit yang bisa mematikan ini pun menurun. Pada lingkungan yang terdapat kasus “ Difteri”, kuman Corynebacterium diptheriae ada banyak sekali. Dalam keadaan seperti itulah antibodi anak perlu ditingkatkan caranya dengan imunisasi ulang. Diberikan vaksin supaya meningkatkan antibodi pada saat bersamaan. Kalau semua antibodi tinggi, pasti enggak terkena difteri. Penularan bakteri ini melalui percikan ludah saat bersihn atau batuk. Selain itu, penyakit ini pun bisa berakibat fatal yakni kematian.

SMPN 1 Sedati memiliki program tahunan untuk imunisasi siswa yang dilaksanakan tiga (3) kali dalam setahun. Imunisasi “Difteri” dilaksanakan pada bulan Februari dan Juli sedangkan imunisasi “Campak” dilaksanakan bulan September. Hari itu siswa-siswi yang berjumlah 10037 mendapatkan imunisasi “ Difteri “ . Empat belas (14) siswa tidak ikut mendapatkan imunisasi “Difteri” karena sakit. Imunisasi dimulai pukul 09.00 s.d. pkl 12.00. Tenaga medis dari Puskesmas berjumlah tujuh (7) dibantu empat (4) guru, dan satu (1) karyawan. Semua tampak menjalankan tugasnya secara profesional melayani siswa berbagai karakter dan ekspresi. Pelaksanaan program imunisasi berjalan lancar berkat kesabaran, keterampilan, dan ketelatenan mereka.

Share