Pernahkah kamu membayangkan betapa beragamnya bentuk, ukuran, dan cara berkembang biak hewan di dunia ini? Dari telur mungil cacing tanah hingga telur raksasa burung kiwi yang beratnya hampir seperlima tubuh induknya, setiap jenis telur menyimpan kisah luar biasa tentang adaptasi dan kelangsungan hidup. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi berbagai jenis telur hewan—mulai dari burung parkit yang setia menjaga pasangannya, buaya yang menentukan jenis kelamin anaknya lewat suhu sarang, hingga telur katak bertaring yang menempel di daun-daun hutan Sulawesi. Mari mengenal lebih dekat keajaiban reproduksi di dunia hewan yang penuh strategi dan keunikan alami!
- Telur Burung Parkit

Di alam bebas, burung Parkit biasanya berkembang biak pada bulan Oktober-Desember. Saat musim kawin, parkit jantan akan memulai lebih dulu dengan mencumbu rayu betina pilihannya. Setelah keduanya saling cocok, terjadilah perkawinan.Parkit jantan dikenal sangat setia dengan pasangannya. Kesetiaan ini terjadi dalam periode yang cukup panjang. Pada saat parkit betina sedang aktif bertelur di dalam sarang, parkit jantan dengan sabar menunggu di dekatnya sambil bersiul. Apabila ada parkit lain yang mengusik, parkit jantan akan langsung menghalaunya.
Selama proses bertelur parkit betina menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam sarang. Burung ini akan keluar sebentar dari sarangnya bila ingin makan atau minum. Selama periode bertelur, parkit betina tampak sangat agresif. Untuk itu, perlu dihindari adanya gangguan-gangguan dari luar kandang. Biasanya parkit bertelur pada pagi hari. Telur parkit berwarna putih bersih, bentuknya agak bulat dengan ukuran panjang dan lebar rata-rata 18,6 mm x 15 mm. Berat tiap telur rata-rata 2,5 gram. Jumlah telur yang dihasilkan rata-rata enam butir. Waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi telur-telur tersebut kurang lebih 19 hari. Selesai periode bertelur, induk betina akan mengerami telur-telurnya. Parkit jantan tidak ikut dalam proses pengeraman. Pejantan hanya mengirim makanan dari luar kotak sarang untuk betinanya. Biasanya, pengeraman berlangsung selama 17 hari. Setelah itu telur akan menetas.

- Telur Cacing Tanah

Sepasang cacing tanah dewasa dapat berkembang biak hingga menghasilkan 1500 ekor cacing dalam satu tahun. Populasi cacing tanah mengalami peningkatan hingga 100% setiap 4-6 bulan. Cacing tanah akan membatasi perkembangbiakan mereka agar sesuai dengan makanan yang tersedia dan ukuran tempat hidup mereka.
Cacing tanah adalah hewan hermafrodit (organ kelamin jantan & betina di dalam satu individu). Meskipun hermafrodit, cacing tanah tidak bisa melakukan reproduksi sendirian karena tidak bisa menyatukan organ kelamin jantan dan organ kelamin betina mereka sendiri. Cacing tanah akan aktif untuk bereproduksi pada keadaan hangat dan lembab.
Cacing tanah dewasa dapat kawin kira-kira sekali setiap 10 hari, dan dari perkawinan itu, dapat menghasilkan satu atau dua kepompong. Satu kepompong dapat menampung hingga 10 telur, namun biasanya hanya 4 cacing muda yang akan menetas.

Telur cacing tanah dapat menetas setelah 3 minggu jika cuaca hangat, namun bisa mencapai 3 bulan jika cuaca dingin. Saat anak cacing tanah siap keluar, kepompong berubah warna menjadi kemerahan dan berukuran sebesar biji anggur. Anak cacing tanah yang baru menetas berukuran sekitar 1.2 cm, tanpa organ reproduksi, berwarna keputihan dengan semburat merah muda yang menunjukkan pembuluh darah mereka.
Cacing tanah akan mulai matang secara seksual saat clitellum terbentuk dengan sempurna (usia 10-55 minggu, tergantung spesies). Pertumbuhan berat tubuh cacing tanah akan melambat setelah melewati tahap ini.
Sebagian cacing tanah akan mati pada tahun yang sama saat mereka dilahirkan. Sementara yang lain dapat hidup hingga usia 5 tahun atau lebih. Cacing tua ditandai dengan bagian ekor agak pipih dan warna kuning pada ekor sudah mencapai punggung. Bila cacing tanah masih produktif, warna kuning masih ada di ujung ekor.
- Telur Buaya
Binatang apa yang mampu bertahan hidup dari bencana zaman Kapur, yang memusnahkan dinosaurus 65 juta tahun lalu? Banyak yang tidak menyangka, keluarga buaya adalah reptil yang selamat dari bencana zaman Kapur. Keluarga buaya yang terdiri dari 23 jenis sudah hidup lebih dari 200 juta tahun di muka Bumi, telah ada sebelum dinosaurus muncul dan hingga kini masih menghuni Bumi.

Sejak lama para ahli biologi meneliti sifat-sifat buaya, untuk mengetahui apa rahasianya sehingga binatang ini bisa bertahan hidup dari kiamat yang memusnahkan reptil besar lainnya, dinosaurus. Ada pendapat dari para ahli biologi, yakni jika ingin belajar bertahan hidup cukup lama, belajarlah kepada keluarga buaya. Salah satu karunia alam bagi buaya sehingga dapat bertahan hidup selama 200 juta tahun, buaya dilahirkan sebagai reptil berdarah dingin. Dengan begitu sirkulasi darah serta aktifitasnya ditentukan oleh dingin atau hangatnya lingkungan.

Buaya seperti juga reptli lainnya tidak banyak melakukan aktifitas dan menjemur badannya agar suhu tubuhnya naik. Bila sudah cukup hangat, buaya melakukan aktifitasnya, terutama mencari makan. Sifat unggul lainnya dari buaya, adalah pola berkembang biaknya. Secara genetis, telur buaya tidak mengandung kromosom kelamin. Telur buaya menetas menjadi anak buaya jantan atau betina amat tergantung dari suhu sarang tempatnya menetas. Suhu sarang yang dingin atau ekstra hangat, akan menghasilkan anakan buaya berkelamin betina. Jika suhunya moderat, yang menetas adalah anak buaya jantan. Bila suhu bervariasi, maka bisa menetas buaya jantan dan betina pada satu sarang.
Dalam penelitian terhadap seluruh jenis buaya yang ada di muka Bumi, terlihat pola penetasan yang serupa. Para ahli biologi menarik kesimpulan, bahwa pola penetasan semacam itu merupakan hasil adaptasi selama jutaan tahun. Namun kemudian muncul pertanyaan, bukankah dinosurus juga termasuk keluarga reptil ? Mengapa dinosaurus musnah 65 juta tahun lalu, tetapi buaya tidak ? Apa keunggulan buaya, sehingga bisa lolos dari bencana dahsyat akibat jatuhnya meteorit besar 65 juta tahun lalu ?
- Telur Burung Kenari

Burung kenari / Canary Breeding adalah salah satu burung yang mudah ditangkarkan. Pada umumnya indukan yang sudah siap dikimpoikan untuk kenari jantan berumur sekitar 8 bulan sedangkan untuk indukan burung kenari betina kira-kira berumur 6 atau 7 bulan. Jadi anda harus memperhatikan kapan kenari siap untuk dikimpoikan. Bila Burung kenari betina mulai menyusun dan merapikan sarang berarti sang betina ini sudah siap untuk bertelur. Masa pengeraman telur kenari kurang lebih sekitar 14 hari. Burung kenari betina akan bertelur sebanyak 3 atau 4 bahkan bisa juga lebih dari itu tergantung dari kualitas burung itu sendiri. Namun pada umumnya maksimal jumlah telur burung kenari adalah 4.
- Telur Amphibi

Telur amphibi adalah salah satu jenis telur yang dihasilkan oleh hewan-hewan amfibi, seperti katak dan salamander. Telur ini biasanya diletakkan dalam kelompok atau rakit di lingkungan yang lembap, seperti di atas permukaan air atau di tanah yang basah. Ciri khas dari telur amphibi adalah lapisan gel yang melindungi embrio di dalamnya, membantu menjaga kelembapan dan memberikan perlindungan dari predator. Proses perkembangannya sangat dipengaruhi oleh suhu dan kualitas air, serta kondisi lingkungan lainnya. Telur amphibi memiliki peran penting dalam ekosistem, karena tidak hanya menjadi sumber makanan bagi berbagai predator, tetapi juga berkontribusi pada siklus hidup amfibi yang kompleks.
- Telur Katak Bertaring

Bentuk telur katak bertaring (Limnonectes phyllofolia) cukup unik dibandingkan dengan telur katak pada umumnya. Telur-telur ini biasanya diletakkan di atas permukaan daun atau batu yang lembap, bukan di dalam air seperti kebanyakan spesies katak lainnya. Telurnya berbentuk bulat kecil, transparan hingga agak keruh, dan tersusun dalam kelompok kecil. Setiap telur memiliki lapisan lendir pelindung yang menjaga kelembapan dan melindungi embrio dari predator serta kekeringan. Penempatan telur di tempat tinggi, seperti dedaunan di atas aliran sungai, memberikan perlindungan tambahan dari banjir dan gangguan hewan air. Bentuk dan strategi penempatan ini mencerminkan adaptasi luar biasa dari katak bertaring terhadap lingkungan hutan hujan tropis Sulawesi yang lembap dan berbukit.

- Telur Belut Srigala

Telur belut srigala, atau yang dikenal juga sebagai belut listrik (Electrophorus electricus), merupakan salah satu jenis telur yang dihasilkan oleh belut srigala, hewan air yang terkenal karena kemampuannya menghasilkan listrik. Belut srigala merupakan ikan yang dapat ditemukan di perairan tawar di Amerika Selatan, terutama di sungai-sungai Amazon dan Orinoco. Telur belut srigala biasanya diletakkan dalam sarang yang dibangun oleh jantan. Sarang ini terbuat dari gelembung udara yang dihasilkan oleh belut srigala jantan, yang berfungsi untuk menjaga telur tetap aman dan terlindungi. Setelah proses pemijahan, jantan akan menjaga telur hingga menetas, biasanya dalam waktu beberapa minggu, tergantung pada suhu dan kondisi lingkungan. Ciri khas dari telur belut srigala adalah ukuran yang kecil dan jumlah yang cukup banyak, bisa mencapai ratusan hingga ribuan telur dalam satu kali pemijahan. Telur ini memiliki lapisan pelindung yang membantu melindungi embrio dari ancaman predator dan menjaga kelembapan. Belut srigala memiliki peran penting dalam ekosistem perairan, dan telur mereka menjadi sumber makanan bagi berbagai organisme lain.


- Telur Serangga

Telur serangga adalah tahap awal kehidupan serangga yang sangat beragam bentuk, ukuran, dan warnanya, dilindungi oleh cangkang keras (korion) dan diproduksi melalui partenogenesis atau pembuahan. Bentuknya bisa bulat, oval, atau lonjong, dengan variasi seperti kantung telur (otheca) pada kecoak atau menempel pada batang panjang seperti pada beberapa serangga. Telur dapat bertahan dalam kondisi tidak menguntungkan seperti kekeringan atau musim dingin dengan memasuki masa dormansi, dan setelah menetas, serangga akan tumbuh melalui proses molting atau pergantian kulit.
- Telur Burung Kiwi

Telur burung kiwi merupakan salah satu telur paling luar biasa di dunia hewan karena ukurannya yang sangat besar dibandingkan dengan tubuh induknya. Seekor burung kiwi betina yang beratnya hanya sekitar dua hingga tiga kilogram dapat menghasilkan telur seberat 450 hingga 500 gram, atau sekitar 20% dari berat tubuhnya sendiri. Ukuran ini menjadikan telur kiwi sebagai telur terbesar secara proporsional di antara semua jenis burung. Proses pembentukan telur yang begitu besar memerlukan banyak energi, sehingga betina kiwi harus mengonsumsi lebih banyak makanan selama masa tersebut. Setelah telur dikeluarkan, biasanya burung jantan yang bertugas mengerami selama 70 hingga 85 hari—salah satu periode pengeraman terlama pada dunia burung. Telur kiwi juga memiliki kuning telur yang sangat besar, mencapai sekitar 65% dari keseluruhan isi telur, yang berfungsi menyediakan nutrisi melimpah bagi embrio. Karena itu, anak kiwi menetas dalam keadaan sudah berbulu penuh dan mampu bertahan hidup sendiri dalam waktu singkat tanpa banyak bantuan induknya. Secara evolusioner, ukuran telur yang besar ini diyakini merupakan sisa sifat purba dari nenek moyang kiwi yang berukuran lebih besar, seperti burung moa yang telah punah. Dengan demikian, telur burung kiwi menjadi bukti unik dari strategi reproduksi ekstrem yang menekankan kualitas dan kesiapan anak, bukan jumlah keturunan yang banyak.
- Telur Capung

Telur capung merupakan tahap pertama dalam siklus hidup capung, yang terdiri dari empat tahap utama: telur, nimfa (larva), pupa (tidak selalu dianggap tahap tersendiri pada capung), dan imago (dewasa). Capung betina biasanya meletakkan telurnya di air tawar atau di tempat yang lembap, seperti permukaan daun yang mengapung, batang tanaman air, atau bahkan langsung di dalam lumpur di tepi kolam dan sungai. Ukuran telur capung sangat kecil, berbentuk oval atau bulat lonjong, dan biasanya berwarna putih, bening, atau kekuningan saat baru dikeluarkan, lalu akan menggelap seiring waktu.
Proses peneluran terjadi segera setelah kawin. Capung betina menggunakan ovipositornya (alat peletak telur) untuk menempatkan telur satu per satu, atau dalam kelompok kecil. Beberapa spesies menaruh telurnya langsung di dalam jaringan tumbuhan air, sedangkan yang lain menebarkannya di permukaan air. Jumlah telur yang dihasilkan sangat banyak—dalam satu kali masa bertelur, seekor capung betina bisa menghasilkan ratusan hingga ribuan telur untuk meningkatkan peluang kelangsungan hidup keturunannya.
Telur capung biasanya menetas setelah beberapa hari hingga beberapa minggu, tergantung pada spesies dan kondisi lingkungan seperti suhu serta kadar oksigen di air. Dari telur tersebut akan keluar nimfa capung (juga disebut larva atau anak capung air), yang hidup di air dan menjadi pemangsa kecil yang aktif. Pada beberapa spesies yang hidup di daerah beriklim dingin, telur dapat berdiapause (tidak menetas hingga kondisi lingkungan mendukung), misalnya menunggu musim semi datang.
Dengan demikian, telur capung berfungsi sebagai tahap awal yang penting dalam daur hidup capung, sekaligus menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa serangga ini terhadap lingkungan perairan tempat ia berkembang biak.