smpn 1 sedati - flyer cerita budaya desaku

Sebuah desa menyimpan kekayaan budaya yang perlu untuk dilestarikan dan diwariskan. Kebudayaan Indonesia yang ada sekarang terbentuk dari proses sosio historis yang terjadi dalam kurun waktu yang panjang akibat kontak budaya antar bangsa maupun antar suku bangsa. Kekayaan ini pula yang menyemarakkan Indonesia sebagai bangsa multikultur dengan berbagai corak.

Sebagai bagian dari upaya memajukan kebudayaan desa, dokumentasi dan publikasi merupakan langkah penting, Berkaitan dengan hal itu pada tahun anggaran 2021 ini, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo menyelenggarakan kegiatan pemajuan kebudayaan berbasis desa yang diawali dengan Lomba Cerita Budaya Desaku yang dilaksanakan pada bulan November 2021.

Dari lomba yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo, SMP Negeri 1 Sedati merupakan salah satu peserta yang mengikuti lomba tersebut dengan mengusung judul Lebon Bandeng dan menjadi juara 1 dari 78 peserta.

Lebon Bandeng ini merupakan sebuah tradisi dari Desa Kalanganyar, Kecamatan sedati, kabupaten Sidoarjo. Seperti yang kita ketahui potensi tambak di desa ini merupakan aset sekaligus profesi bagi warga sekitar. Tradisi Lebon Bnadeng dilaksanakan ketika petani tambak ingin menyebar kembali bibit bandeng (nener) ke dalam tambak setelah proses panen. Namun, sudahkah kita ketahui bahwa tradisi Lebon Bndeng ini harus melalui beberapa rangkaian kegiatan, untuk itulah enam siswa SMP Negeri 1 Sedati dengan didampingi bapak ibu guru Pembina ingin mengulik lebih dalam tradisi tersebut yang perlahan-lahan sudah mulai tidak dikenal oleh generasi penerusnya.

Langkah awal adalah menemui Kepala Desa untuk mencari informasi umum serta meminta izin untuk mengadakan pengambilan video proses Lebon Bandeng tersebut. Dari keterangan Bapak Kepala Desa mendapatkan informasi bahwa salah satu pemilik tambak yang bernama Bapak Sunoto akan melaksanakan tradisi tersebut, untuk itu bapak Sunoto kami jadikan sebagai nara sumber.

Dengan dipandu oleh bapak dan ibu guru tim literasi akhirnya kami berhasil mengumpulkan data dan informasi. Dari pengumpulan data dan informasi ternyata tradisi Lebon bandeng ini sungguh unik karena segala pelaksanaan dan ubarampe (alat dan bahan) memiliki simbol dan pemaknaan khusus yang merupakan ciri khas budaya Jawa. Tradisi Lebon Bandeng ternyata memiliki tiga proses tahapan, yang pertama diawali dengan proses tumpang, yaitu menguras air tambak untuk diganti air yang baru, caranya dengan membuka laban (tempat pembuangan dan pemasukan air dari tambak ke laut saat menguras tambak atau sebaliknya air laut ke tambak saat mengisian tambak. setelah menguras kemudian harus menunggu air laut pasang, kira-kira membutuhkan waktu dua hari. Hal ini disebut dengan nyengkani. Nyengkani tidak bisa dilakukan sembarangan, melainkan menunggu air laut pasang sekitar pukul 23.00. Setelah tambak terisi oleh air (yang disebut tradisi nyengkani), tidak serta merta benih ikan (nener) ditebar begitu saja namun harus enunggu lebih kurang satu minggu setelah nyengkani, barulah benih nener ditebar.

Satu minggu kemudian setelah proses nyengkani Kemudian kami diajak kembali ke tambak, menyiapkan ubarampe ( bahan-bahan ) untuk digunakan dalam upacara dan doa dalam tradisi Lebon Bandeng yang akan digelar.

smpn 1 sedati - cerita budaya desa lebon bandeng_3

Bahan-bahan tersebut berupa jajan pasar yang yang terdiri dari lima macam jenisnya dan semua jajan pasar tersebut dalam budaya jawa memiliki simbol dan pemaknaan hidup sebagai berikut ;

Dawet: Supaya rezekinya semeriwet (banyak). Dawet ini diletakkan ke dalam wadah terbuat dari tanah liat yang disebut kendil, hal ini dilakukan agar rezeki yang dihasilkan selalu barokah atau rezeki yang dihasilkan membawa kesejukan untuk keluarga dengan tetap berpegang teguh hanya kepada Allah SWT. Karena Dialah pemilik kehidupan, dan kepadaNyalah semua dikembalikan.

Lupis : Sifatnya lengket ketan jika sudah matang, hal ini diharapkan tercipta persaudaraan yang tulus dan peduli satu sama lain

Cenil: Sifatnya lengket sulit dipisahkan, merupakan bukti bahwa orang Jawa memiliki sifat persaudaraan yang sangat erat dan sulit dipecah belah tali persaudaraan mereka

Ongol-ongol: Ongol memiliki arti kenyal, lentur, dan lembut. Kue ini sebagai pelengkap dalam tradisi budaya dari tradisi adat masyarakat
Iwel-iwel: Berasal dari kata “kemiwel” artinya menggemaskan. Itulah alasannya iwel-iwel dibuat untuk menyambut datangnya benih bandeng baru (nener)
Pleret: Jajan Pleret ini digunakan untuk ritual wiwit padi, lebon bandeng, hari-hari tertentu, seperti acara pernikahan, khitanan, dll.
Sedangkan jajanan pasar diletakkan dalam sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang, dilipat sehingga berbentuk kotak yang disebut dengan takir yang memiliki pemaknaan takwa dan zikir, hal ini dimaksudkan bahwa semua yang diharapkan pada lima macam jajan pasar itu juga selalu disertai dengan takwa dan zikir oleh si pemilik tambak. Kemudian dawet dan jajan pasar yang sudah ditempatkan dalam takir ditata dalam tampah yang memiliki filosofi nampa/menerima.
Setelah ibu-ibu tersebut sudah selesai menata maka semua orang berkumpul duduk di atas tikar mengitari ubarampe, kemudian dimulailah upacara Lebon Bandeng. kami juga mengikuti dengan khidmat.

smpn 1 sedati - cerita budaya desa lebon bandeng_2

Acara dimulai dengan sambutan dari kepala keluarga pemilik tambak, tentu saja Beliau adalah Bapak Sunoto. Kemudian diteruskan dengan doa yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Setelah acara doa kemudian kita membagi-bagikan dawet dan jajan pasar yang sudah diwadahi dalam besek (wadah yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk segi empat) tersebut kepada petani tambak lain yang terdekat dengan tambak milik Bapak Sunoto. Ternyata wadah besek yang digunakan untuk membagikan jajanan pasar dan dawet ini memiliki makna filosofi yaitu mencerminkan kekompakan, persatuan saling mengisi satu dengan yang lainnya dengan erat dan kuat serta harmonis.

Setelah membagi-bagi dawet dan jajan pasar tadi kita Kembali berkumpul lagi duduk di tikar mengelilingi ubarampe dalam tampah untuk purak jajan pasar/ makan bersama. Setelah itu barulah kita akan nebar nener/memasukkan nener ke dalam tambak Untuk memasukkan nener ini, ada beberapa cara yang harus kita perhatikan.

Yang pertama siapkan bak isi air payau yang bersih, kedua buka pengikat kantong plastik wadah nener tersebut, kemudian tuang nener ke dalam bak tersebut ini dimaksudkan agar nener beradaptasi sebelum dimasukkan ke dalam tambak, setelah ditunggu beberapa saat kemudian nener siap dilepas ke tambak.
Nah setelah melepas nener ke dalam tambak itu berarti acara ini sudah selesai. Ternyata tradisi Jawa beragam jenisnya dan semua yang berkaitan dengan tradisi tersebut memiliki simbol yang dimaksudkan memaknai hidup.

smpn 1 sedati - cerita budaya desa lebon bandeng

Demikianlah tradisi unik yang dilakukan masyarakat Desa Cemandi, khususnya dalam mengolah tambak. Mari, kita bersama-sama mencintai tradisi akar tidak tergerus oleh perkembangan zaman. Salam budaya. (Red. Bu Titik Darmayu)