“Bersastra itu kan kegiatan manusia paling tinggi, melibatkan rasio dan perasaan!”, begitulah kalimat yang diucapkan oleh KH. Mustofa Bisril atau yang lebih dikenal dengan Gus Mus. Puisi ini diciptakan oleh Gus Mus pada hari Jumat, tanggal 05 Januari 2018.

Dalam membuat puisi, beliau cenderung menggunakan gaya bahasa metafora dengan banyak menggunakan kiasan, yaitu memanfaatkan istilah alam, difungsikan untuk menciptakan efek kekayaan makna, sehingga membuat bahasa puisi menjadi lebih sugestif. Puisi Ibu ini menggambarkan kekaguman akan keagungan Aku kepada seorang ibu. Hampir di setiap larik puisinya, Aku mengungkapkan sosok ibu dengan mengibaratkan alam sebagai ungkapan kekagumannya.

Dengan adanya puisi ibu ini, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kepada diri kita atas apa yang telah dilakukan seorang ibu selama ini bahwa di dalam sikapnya yang lemah dan lembut, beliau memiliki kekuatan yang luar biasa. Terdapat sebuah hadist yang mengatakan bahwa “surga ditelapak kaki ibu”, sehingga dapat menimbulkan rasa kesadaran untuk hormat kepada ibu. Dapat dilihat dalam penggalan puisi ibu berikut “Kaulah, ibu, mentari dan rembulan yang mengawal perjalananku mencari jejak sorga di telapak kakimu”. Penggalan kalimat puisi Ibu tersebut diharapkan kepada kita untuk menumbuhkan kesalehan spiritual dalam diri kita. Jika kita menyadari akan keagungan seorang ibu, tentu kita akan menjadi pribadi yang selalu mawas diri serta berbuat dan memberi yang terbaik bagi kedua orang tua.

Dari semua makna-makna yang ada di dalam isi puisi ibu tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kita harus selalu menghormati ibu, mendoakannya yang terbaik, serta janganlah kita berani kepadanya. Dapat diibaratkan, kita sebagai seorang anak menjadi sebuah pohon, maka ibu adalah akar dari pohon tersebut. Maka dari itu, sayangilah ia, hormatilah ia, serta cintailah ia. Patuh dan tunduklah terhadap apa yang disuruhnya. Karena tanpa akar, pohon tidak akan bisa tumbuh dengan baik. (Esy Rezyapril R)